Puisi Kelompok Sa‘alik: Wajah Lain Puisi Arab Pra-Islam

Standard

Pada masa pra-Islam, sa‘alik merupakan sebutan sekelompok masyarakat marjinal yang memberontak dari kehidupan qabilah. Mereka yang tergolong ke dalam kelompok sa‘alik ini terdiri dari tiga golongan, yaitu; para khula‘a’, yang terusir dan identitas kesukuannya dicabut dari kehidupan qabilah-nya; aghribat al-‘Arab yang berkulit hitam, yang keberadaannya tidak diakui sebagai bagian dari keluarga bapaknya karena dianggap sebagai aib yang mencoreng kehormatan qabilah-nya; dan para sa‘alik fuqara’; orang-orang miskin dari akibat kesenjangan ekonomi dalam qabilah, dan memilih jalan hidup dengan perampokan. Nama-nama seperti Ta’abbata Sharran, al-Sulayk ibn al-Sulakah, al-Shanfara, ‘Urwah ibn al-Ward, ‘Amr ibn Barraq al-Hamdani, sebagian warga qabilah Hudhayl seperti al-A‘lam al-Hudhali, Sakhr al-Ghayy al-Hudhali, Abu Khirash al-Hudhali, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan umumnya puisi-puisi para penyair qabilah yang mencerminkan bentuk fanatisme individu terhadap qabilah-nya, puisi-puisi yang dipresentasikan kelompok sa‘alik merupakan puisi yang memberontak terhadap sistem kesukuan. Sebagaimana diakui Roger Allen, puisi-puisi kelompok sa‘alik pra-Islam merefleksikan skenario oposisi anti qabilah. Dalam puisi-puisi mereka tercerminkan pemikiran dan perilaku yang bertentangan dengan tradisi kesukuan. Karena itu, jika dalam qabilah, puisi-puisi yang dipresentasikan para penyair merupakan representasi dari suara kolektivitas individu dalam qabilah-nya (al-shakhsiyah al-qabaliyah), maka puisi-puisi kelompok sa‘alik mencerminkan bentuk independensi individual (al-shakhsiyah al-fardiyah) yang lepas dari kehidupan qabilah-nya.

Arti penting dari puisi-puisi kelompok sa‘alik ini adalah bahwa puisi-puisi tersebut muncul dari pemikiran dan praktik sekaligus. Dalam arti bukan sekedar nilai teoritis semata, melainkan juga merupakan peristiwa yang mereka alami. Jika umumnya kecenderungan memberontak dalam puisi-puisi Imru’ al-Qays dan Tarafah ibn al-‘Abd muncul dari pengalaman emosional dan keinginan-keinginan subjektif individual (al-tajribat al-dhatiyah), maka puisi-puisi kelompok sa‘alik muncul dari pengalaman ideologis (al-tajribat al-idiyulujiyah) tertentu, yakni keterkaitan puisi dengan pengalaman sektarianisme. Sebagaimana menurut Yusuf Khulayf, fenomena sa‘alik pra-Islam merupakan potret dari hilangnya fanatisme kesukuan (‘asabiyah qabaliyah) individu terhadap qabilah, seiring dengan tumbuhnya sektarianisme (‘asabiyah madhhabiyah) dalam struktur sosial masyarakat Arab pada masa itu. Hilangnya semangat kesukuan ini merupakan konsekuensi dari kesenjangan alami karena hukum-hukum positif yang terceraiberai dalam masyarakat Arab pada masa itu, selain juga disebabkan karena timbulnya kesenjangan ekonomi dalam kehidupan qabilah, di mana kekayaan sepenuhnya terpusat di tangan kelas ekonomi kaya, sementara mayoritas warganya terbelenggu dalam kemiskinan. Dampak dari kondisi inilah kemudian yang menyebabkan larinya mereka dari kesatuan masyarakatnya (baca: qabilah) di mana kekuatan dijadikan sebagai hukumnya, peperangan dan penyerbuan sebagai alat, serta tujuannya adalah perampokan dan pemerasan (al-ghazwu wa-al-igharat li-al-salb wa-al-nahb). Karena itu, puisi-puisi kelompok sa‘alik melalui pengalaman ini mengekspresikan perasaan dan spontanitas mereka menolak perbedaan kelas, dan menggambarkan situasi ekonomi mereka yang buruk, serta persoalan-persoalan lainnya yang diakibatkan dari kondisi tersebut. Sebagai ilustrasi, seperti yang tercermin dalam puisi ‘Urwah ibn al-Ward berikut ini:

دعيني للغنى أســـــعى فإني            رأيت الناس شــرهم الفــقير

وأبعدهم وأهولهم عليــــــهم             وإن أمسى له حسب وخير

“Biarkan aku merampok orang kaya, maka aku melihat manusia yang paling buruk adalah orang miskin, paling hina, dan rendah di mata mereka, sekalipun ia memiliki nasab yang baik dan kemuliaan.”

 Dalam puisi tersebut, ‘Urwah berbicara tentang realitas masyarakatnya yang dihadapkan pada kemiskinan yang membelenggu mereka. Kondisi di mana orang kaya hidup dalam kemewahan, sementara orang-orang miskin hidup dalam kesusahan. Karena itu, perampokan merupakan salah satu bentuk pemberontakan yang ia lakukan untuk melawan orang-orang kaya yang telah merampas hak-hak sosial masyarakat miskin.

Kemudian, dalam puisi-puisi kelompok sa‘alik pra-Islam sendiri terdapat fenomena lain yang menarik, terkait dengan pandangan humanis yang menjadi narasi besar mereka. Puisi-puisi tersebut mencerminkan ekspresi dan praktik moral dengan menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dalam perjuangan masyarakat miskin. Sikap ini misalnya seperti yang tercermin bahwa mereka tidak memonopoli sendiri harta rampasan yang mereka rampok dari orang-orang kaya yang pelit, akan tetapi membagi-bagikannya kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Hal ini misalnya seperti yang tercermin dalam puisi al-Shanfara, yang menggambarkan bahwa di saat menemani orang-orang miskin, ia mewakilkan kepada Ta’abbata Sharran untuk membagikan makanan kepada orang-orang miskin yang sedang kelaparan:

وأم عيـــــــال قد شهدتُ تقوتـــهم        إذا أطعــــــــمتهم أوتحت وأقـلت

تخاف علينا العيل إن هي أكثرت        ونحن جيــــــــاع أي آل تــــألت

“Aku lihat Umm ‘Iyal (Ta’abbata Sharran), memberikan makanan kepada mereka (orang-orang miskin). Jika ia mengurangi makanan tersebut, maka ia khawatir kalau-kalau ia akan mendapatkan bagian lebih banyak dari kami, sedangkan kami semua berada dalam kelaparan.”

 Sementara di sisi lain, penyimpangan dalam puisi-puisi kelompok sa‘alik juga tercermin dalam struktur formal puisi yang menyimpang dari kecenderungan umum puisi Arab pra-Islam; baik tema, diksi, maupun sisi musikalitas dalam metrum (wazn) yang pendek. Jika umumnya para penyair qabilah melontarkan pemikiran dari tradisi yang sudah ada, maka kelompok sa‘alik tidak mengambil materi puisinya dari para penyair yang mendahuluinya (‘adam al-hirs ala al-tasri‘), akan tetapi lahir dari pengalaman dan pemikiran mereka. Menurut Adonis, kecenderungan berbeda dalam puisi-puisi kelompok sa‘alik ini tidak hanya semata-mata penyimpangan, melainkan sebagai upaya menggantikan warisan pemikiran dominan, dengan melontarkan alternatif baru dalam tradisi puisi Arab pra-Islam. Namun begitu, puisi sektarian (al-shi‘r al-madhhabi) seperti yang diusung kelompok sa‘alik ini tidak memiliki arti penting dari sisi seni untuk seni (l’ art pour l’ art), makna pentingnya terkait dengan transformasi puisi dari wilayah ekspresi intuisi menuju ekspresi nalar yang berdasar pada bukti (baca: realitas).

Demikianlah, wajah lain yang ditunjukkan dalam puisi Arab pra-Islam, di samping sisi lain yang dipresentasikan para penyair qabilah. Kenyataan tersebut memperlihatkan sebuah prinsip yang dapat dijadikan titik tolak bagi berbagai fakta dan kesimpulan penting dalam mengkaji puisi Arab pra-Islam, atau bahkan peradaban Arab secara keseluruhan. Prinsip tersebut mencerminkan bahwa sejatinya peradaban Arab tidaklah tunggal, tetapi beragam. Dengan kata lain, asal-asal usul tersebut mengandung benih-benih dialektis antara yang menerima dan menolak, atau meminjam istilah Adonis, yang al-thabit dan al-mutahawwil. al-Thabit terkait dengan qabilah dan nilai-nilai kesukuannya yang unik, sementara al-mutahawwil, terkait dengan pemberontakan terhadapnya. Tidak adanya satu sistem yang mencairkan seluruh qabilah dan menyatukan kehidupan dan pemikirannya memiliki peran mendasar yang menyebabkan dialektika ini tetap memiliki kadar kebebasan dan keterbukaan. Dalam puisi-puisi kelompok sa‘alik khususnya, selain juga sebagian puisi Imru’ al-Qays, Tarafah ibn al-‘Abd, ada benih bagus yang mendorong terjadinya transformasi puisi menuju dimensi dan perspektif baru. Karena itu, jika memang benar pernyataan yang mengatakan bahwa puisi merupakan dokumen sejarah (diwan al-‘Arab), dan sumber pengetahuan paling otoritatif yang dimiliki bangsa Arab, maka dapat dikatakan bahwa puisi merupakan sumber pertama bagi peradaban Arab yang terbagi sesuai dengan tingkatan sumbernya. Dan tentunya, puisi tidaklah tunggal dengan satu pola terkait dengan kesukuan dan nilai-nilainya yang dominan, akan tetapi beragam dan bervariasi; baik dari sisi ekspresi (al-ta‘bir), maupun tendensi (al-muhtawa).

Daftar Bacaan:

  1. Adonis. al-Thabit wa-al-Mutahawwil: Bahth fi al-Ibda‘ wa-al-Itba‘ ‘Inda al-‘Arab. Jilid. 1. Beirut: Dar al-Saqi, 1994.
  2. Shawqi Dayf. al-‘Asr al-Jahili. Kairo: Dar al-Ma‘arif, 2003.
  3. Yusuf Khulayf. al-Shu‘ara’ al-Sa‘alik fi al-‘Asr al-Jahili. Kairo: Dar al-Ma‘arif, 1978.
  4. ‘Abd al-Halim Hifni. Shi‘r al-Sa‘alik: Manhajuhu wa-Khasa’isuh. Kairo: al-Hay’at al-Misriyah al-‘Ammah li-al-Kitab, 1987.
  5. Roger Allen. An Introduction to Arabic Literature (Cambridge: Cambridge University Press, 2003.
  6. Khalil ‘Abd al-Karim. Quraysh Min al-Qabilah Ila al-Dawlah al-Markaziyah. Kairo: Sina, 1997.
  7. Sa‘di Dannawi, ed. Diwan ‘Urwah Ibn al-Ward. Beirut: Dar al-Jil, 1996.
  8. Emil Badi‘ Ya‘qub, ed. Diwan al-Shanfara. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996.
  9. Saghir Ibn Raghib ‘Abd Allah al-‘Anzi. “Ru’yat al-‘Alam fi Shi‘r al-Sa‘alik Hatta Nihayat al-Qarn al-Thalith al-Hijri.” Dr. dis., Jami‘at Umm al-Qura Saudi Arabia, 1431 H.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s